36 Sekolah Kekurangan Murid dan Terancam Tidak Terima BOS

Kekurangan Murid Sekolah Terancam Tidak Dapat Dana BOS
Ilustrasi. Sekolah dengan jumlah siswa sedikit atau tidak mencapai 60 murid terancam tidak menerima Dana BOS. Foto : ISTIMEWA

ENIMEKSPRES.SUMEKS.CO, MUARA ENIM – Sedikitnya 36 sekolah di Kabupaten Muara Enim, terancam tidak akan mendapatkan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Soalnya, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) kukuh mempertahankan Permendikbud Nomor 6 Tahun 2021 tentang Petunjuk Teknis Pengelolaan Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) Reguler, yang salah satunya akan menghentikan penyaluran dana BOS kepada sekolah yang jumlah muridnya kurang dari 60 selama tiga tahun berturut-turut.

“Di Kabupaten Muara Enim memang ada sekolah yang siswanya kurang dari 60 dan itu rata-rata letaknya di pedesaan yang termasuk kawasan jauh dari kota,” kata Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Muara Enim, Irawan Supmidi melalui Plt Sekretaris, Karmidi, Selasa (7/9/2021).

Menurut Karmidi, untuk SD setidaknya ada 24 sekolah yang siswanya kurang dari 60, seperti SDN 2 Muara Belida, SDN 13 SDL, SDN 9 SDL, SDN 16 SDL, SDN 8 Panang Enim, SDN 9 Panang Enim, SDN 7 SDT, SDN 4 Rambang Niru, dan SDN 29 Gelumbang.

Kemudian, SDN 9 Ujan Mas, SDN 2 SDU, SDN 18 Rambang Niru, SDN 7 SDL, SDN 10 SDT, SDN 4 SDL, SDN 18 Rambang, SDN 12 SDL, SDN 5 Muara Enim, SDN 8 Belida Darat, dan SDN 6 Muara Belida.

Sedangkan untuk jenjang SMP, lanjut Karmidi, ada 12 SMP negeri, yakni SMPN 4 SDU, SMPN 5 SDL, SMPN 6 SDL, SMPN 1 Belida Darat dan SMPN Muara Belida. Lalu, untuk SMP swasta, SMP PGRI Muara Enim, SMP PGRI Karang Agung, SMP PGRI Alai, SMP PGRI Sialingan, SMP PGRI Menanti, SMP Darussalamah, dan SMP IT Al Ashirriyah Nurul Islam SDT.

“Sebagian besar sekolah tersebut berada di wilayah terluar Kabupaten Muara Enim, jadi wajar jika muridnya sedikit,” jelasnya.

Oleh karena itu, kata dia, kalau untuk sekolah negeri tentunya harus bersaing dengan meningkatkan mutu yang baik, baik itu prestasi akademik maupun non akademik. Selain itu juga, sarana dan prasarana termasuk tenaga pengajar akan mempengaruhi sekolah tersebut.

Berkaitan dengan syarat sekolah menerima BOS adalah memiliki minimal 60 siswa memang aturan baru dan tentunya akan memberatkan bagi sekolah yang siswanya sedikit. “Jika aturan tersebut diterapkan, tentu akan memberatkan sekolah yang muridnya sedikit. Dan malah bisa membuat sekolah tersebut semakin terpuruk,” ujarnya.

Dan jika aturan tersebut tetap dilaksanakan, lanjut Karmidi, salah satu jalannya melakukan penggabungan (Regrouping) sekolah jika sekolah tersebut masih berada dalam satu komplek atau desa.

Namun jika tidak dalam satu desa, tentu akan menjadi masalah, apalagi di desa tersebut hanya ada satu sekolah, tidak mungkin meminta masyarakat untuk bersekolah ke sekolah desa tetangga yang letaknya jauh.

Faktor lain, terlepas dari baik atau tidaknya mutu dari sekolah tersebut, yakni jumlah anak usia sekolah di daerah tersebut. Kemudian, setiap sekolah baik itu memiliki banyak atau sedikit siswa ataupun prestasinya, semua punya andil dalam mencerdaskan bangsa.

“Sebenarnya siswa sedikit itu kegiatan belajar mengajar lebih efektif dibandingkan dengan siswa banyak. Coba lihat saja sekolah yang bertaraf internasional itu siswanya dalam satu kelas rata-rata sedikit. Semua tentu punya andil dalam porsinya masing-masing,” tutupnya. (ozi/mg01)