UMK Cuma Naik Rp6 Ribu, Buruh Demo sampai Minggu Depan

Buruh lakukan demo meminta kenaikan upah sebesar 10 persen
Buruh dari seluruh wilayah di Jatim berdemonstrasi di Kantor Gubernur Jawa Timur, Jalan Pahlawan, Kota Surabaya, Kamis (25/11/2021). Foto : RAFIKA YAHYA/JAWA POS

ENIMEKSPRES.CO.ID, SURABAYA Upah Minimum Kota (UMK) Surabaya dinilai terlalu kecil dan tidak layak. Besaran kenaikannya Rp6.500.

Osen, bendahara Serikat Pekerja Logam Elektronik dan Mesin (SPLEM) Jawa Timur mengatakan, angka kenaikan itu dinilai tidak menghargai kinerja buruh. “Buruh mengajukan naik 10 persen. Itu dihitung kebutuhan harga pokok,” tutur Osen ketika ditemui di lokasi demonstrasi, kemarin (25/11/2021).

Menurut dia, kenaikan itu didasarkan pada kenaikan harga bahan pokok. Misalnya, gula yang sebelumnya Rp12.000 sekarang naik Rp 15.000. Lalu minyak goreng dari Rp25.000 jadi Rp30.000. ”Pemerintah nggak peduli dengan kebutuhan hidup kami,” terang Osen.

Baca juga: Menaker: Ada Sanksi Pidana untuk Perusahaan Menggaji Pekerja di Bawah Upah Minimum

Menurut Osen, tuntutan buruh itu masuk akal untuk dilakukan. Sebab harga bahan pokok terus meningkat. Tak sebanding dengan gaji atau upah yang didapatkan. “Kami akan terus melakukan demonstrasi sampai 30 November, bila tuntutan tidak dipenuhi,” ucap Osen.

Demonstrasi pada Kamis (25/11/2021) itu menuntut kenaikan UMK sebesar 10 persen, bukan 1,24 persen seperti yang diumumkan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, pada Minggu (21/11/2021).

Dia menegaskan bahwa tiap demonstrasi, pihaknya akan membawa ribuan massa. Mereka akan berdemo di beberapa tempat berbeda. Misalnya, di Gedung Negara Grahadi, Kantor Gubernur Jalan Pahlawan, dan Balai Kota Surabaya.

”Harusnya penetapan UMP itu sesuai dengan PP 78 No 17, dengan besaran kenaikan harus sesuai dengan inflasi dan kenaikan ekonomi,” ujar Osen. (jawapos)